TINDAKAPENELITIAN N KELAS ( PTK )

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS III

DI SD NEGERI BOJONG SEMPU 02 KECAMATAN PARUNG KABUPATEN BOGOR.

DISUSUN OLEH

Nama         :  MUHAMAD GUNTUR

Nim             :  1001037201

 

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH Prof. Dr. HAMKA

UHAMKA JAKARTA

 

ABSTRAK

 

Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPS disebabkan oleh banyak factor antara lain:

  1. Banyaknya materi yang harus dipelajari sedangkan jumlah jam belajar berkurang.
  2. Siswa menganggap bahwa mata pelajaran IPS harus dihapal, hal ini merupakan momok tersendiri bagi siswa.
  3. Pada umumnya, guru kurang bervarisi dalam menggunakan metode pembelajaran sehingga siswa merasa bosan.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta motivasi siswa untuk mempelajari mata pelajaran IPS yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil lbelajar siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penggunaan pendekatan kontekstuatul diharapkan dapat membantu siswa untuk membantu meningkatkan hasil belajarnya.

Penelitian ini dilakukan di kelas III SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan parung Kabupaten Bogor, pada bulan Maret 2011. Melalui dua siklus penelitian, tiap siklus dilakukan dengan dua kali pertemuan dan diakhiri dengan tes tertulis. Subyek penelitian adalah siswa dan guru. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi dan hasil tertulis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 (satu) ke siklus 2(dua). Belajar dengan cara berdiskusi mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar serta menumbuhkan rasa social yang tinggi di anatra anggota kelompok.

Kesimpulan penelitian adalah menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS

KATA PENGANTAR

Bismillahirahhmanirrahim

Alhamdulillah segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas (PTK) ini tepat pada waktunya. Tujuan penulis melakukan penelitian tindakan kelas ini untuk mengetahui peningkatan, pemahaman : “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL” pada mata pelajaran  IPS siswa Kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor

Dalam penyusunan PTK  ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk penulis menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Kepala SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor
    1. Rekan guru sejawat
    2. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian PTK ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini banyak kekurangan dan keterbatasan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dalam bentuk apapun. Namun demikian, penulis harapkan semoga penelitian ini dapat bermanfaat untuk rekan-rekan guru di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung kabupaten Bogor.

Bogor, Maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Abstrak………………………………………………………………………………………………………………… i

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………… iii

Bab I Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………… 1
  2. Identifikasi Masalah……………………………………………………………………………………… 2
  3. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………………. 2
  4. Tujuan Penelitian………………………………………………………………………………………….. 2
  5. Manfaat Penelitian………………………………………………………………………………………… 2

Bab II Tinjauan Teori, Kerangka Berpikir Dan Hipotesis Tindakan

  1. Hakekat Belajar……………………………………………………………………………………………… 4
  2. Hakekat  Hasil Belajar…………………………………………………………………………………….. 5
  3. Pendekatan Kontekstual…………………………………………………………………………………. 6
  4. Kerangka Berpikir………………………………………………………………………………………….. 8
  5. Hipotesis Tindakan…………………………………………………………………………………………. 9

Bab III Metodologi Penelitian

  1. Pendekatan Penelitian…………………………………………………………………………………… 10
  2. Setting Penelitian
    1. Tempat Penelitian……………………………………………………………………………………. 10
    2. Waktu Penelitian…………………………………………………………………………………….. 10
    3. Prosedur Kerja Penelitian…………………………………………………………………………. 11
    4. Metode pengumpulan data……………………………………………………………………….. 13
    5. Metode analisis data………………………………………………………………………………… 13
    6. Indikator keberhasilan……………………………………………………………………………… 13
    7. Analisis dan refleksi………………………………………………………………………………… 14

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

  1. Hasil Penelitian……………………………………………………………………………………………… 15
  2. Pembahasan………………………………………………………………………………………………….. 17

Bab V Kesimpulan Dan Saran

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………….. 20
  2. Saran…………………………………………………………………………………………………………… 20

Daftar Pustaka

Lampiran

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.             Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan studi gabungan ilmu – ilmu sosial yang terpadu ataupun terpisah atas ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu geografi dan sosiologi antroplogi. Materi IPS digali dari segala aspek kehidupan praktis sehari – hari di masyarakat. Dan bahan pelajarannya diracik sedemikian rupa, agar dapat  menarik perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu mencapai hasil belajar yang melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Namun sering kali hasil proses pembelajaran tidak sesuai dengan harapan, hal ini disebabkan oleh banyaknya kendala yang dihadapi. Antara lain disebabkan oleh terabatasnya media belajar, terbatasnya sumber belajar, kurangnya motivasi belajar siswa, metode belajar yang membosankan.

Pada kenyataannya, dalam proses belajar mengajar guru kurang memperhatikan kondisi psikis siswa. Siswa sering kali di jadikan obyek dalam proses belajar mengajar, guru aktif menjelaskan sedangkan siswa pasif mendengarkan (Teacher Oriented). Dampaknya siswa menjadi jenuh dan bosan, yang akhirnya timbul paradigma atau anggapan dari siswa bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran yang sulit dan tidak menyenangkan. Kondisi seperti ini mengakibatkan hasil belajar siswa tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Paradigma atau anggapan siswa ini bisa kita ubah dengan mengkondisikan siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar dibandingkan dengan guru. Pendekatan kontekstual memungkinkan pembelajaran yang tenang dan menyenngkan. Karena pembelajaran dapat dilakukan secara lamaiah, sehingga siswa dapat mempraktekan secara langsung yang dipelajarinya.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mendorong siswa memahami hakekat, makna dan manfaat belajar sehingga memnugkinkan siswa rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar.

Dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPS kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor diharapkan dapat merubah pembelajaran IPS menjadi lebih optimal, inovatif, kreatif, menyenangkan dan berbobot. Diharapkan siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

 

  1. B.              Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka masalah-masalah yang ada dapat diidentifikasikan, yaitu

  1. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa?
  2. Kendala apa saja yang ditemui dalam proses pembelajaran IPS?
  3. Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
  4. Apakah dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS?
  1. C.             Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah-masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS?”

  1. D.             Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah pendekatan kontektual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas III di SD Negeri Bojng Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.

  1. E.              Manfaat Penelitian
    1. Bagi Siswa
      1. Membiasakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
      2. Mengubah pola pikir siswa bahwa IPS adalah pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan menjadi pelajaran yang menyenangkan serta berguna dalam kehidupan sehari – hari.
  1. Bagi Guru
    1. Untuk memperbaiki metode pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa.
    2. Membiasakan guru untuk berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.
    3. Meningkatkan profesionalisme guru melalui penelitian yang dilakukan.
  1. Bagi Sekolah
    1. Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
    2. Untuk meningkatkan kinerja guru
    3. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
    4. Untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan sekolah,


 

BAB II

TINJAUAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR

DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 

  1. F.        Hakekat Belajar

Optimalisasi kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya factor metode/teknik mengajar guru. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga sisswa tidak jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang ada dalam kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehingga siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2005:69).

Pengertian optimalisasi pembelajaran menurt tim penyusun Kamus bahasa (1994:705), optimalisasi merupakan proses, cara, atau perbuatan mengoptimalkan. Mengoptimalkan berarti menjaadikan paling baik, paling tinggi atu paling menguntungkan.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006:39), belajar dan mengajar merupakan yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal. Dalam perppisahan raga, jiwa bersatu antara guru dan anak didik.

Menurut Syaiful, ciri-ciri belajar yaitu :

  1. Belajar mengajar memiliki tujuan
  2. Ada suatu proses
  3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi khusus
  4. Ditandai dengan aktivitas anak didik
  5. Guru berperan sebagai ppembimbing
  6. Dibutuhkan disiplin
  7. Ada batas waktu
  8. Evaluasi

Menurut Arif Suhadi (1984:4) dalam Whandie http://whandie.net, 2007 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses membuat orang belajar, guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai strategi pembelajaran yang ada. Yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung secara optimal. Dalam pembelajaran proses belajar tersebut secara bertujuan dan terkontrol. Morgan di dalam Whandie http://whandie.net, 2007, menyebutkan bahwa kegiatan di katakana belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri, berikut ini:

  1. Belajar adalah perubahan tingkah laku
  2. Perubahan terjadi karena pengalaman bukan krena pertumbuhan
  3. Perubahan tersebut harus bersifat permanent untuk waktu yang cukup lama

Dari pengertian-pengertian di atas, pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang terprogram yang dilakukan oleh anak didik dan guru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar terjadi proses belajar atau perubahan tingkah laku pada anak didik, sebelum kegiatan belajar mengajar seorang guru harus merencanakan kegiatan belajar dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yang akan diberikan pada siswa

  1. G.       Hakekat  Hasil Belajar

Hasil belajar pada dasarnya adalah sutu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman. Pandangan tentang hasil belajar menurut Samuel Soeitoe (1982:82), hasil belajar tergantung dari kondisi yang dialami sebelum pada diri dari kondisi suasana belajar dan dari akibat apa yang dilakukan pelajar.

Gagne dan Briggs dalam sri Awan Asri (2007:1) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh  seseorang sesudah mengikuti proses belajar. Ada lima kemampuan yang yang dapat diperoleh seseorang sebagai hasil belajar yaitu keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik dan sikap.

Sementara itu, menurut Bloom dalam Sri Awan Asri (2007:2) membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif bekaitan dengan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah afektif berkaitan dengan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, nilaidan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motorik, manipulasi bahan atau obyek

Idealnya pengungkapan hasil belajar meliputi ketiga ranah tersebut. Namun demikian, pengungkapan seluruh ranah sulit dilakukan. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan mencerminkan perubahan sebagai hasil belajar.

Oleh karena itu, pengertian hasil belajar dalam penelitian ini hanya dibatasi pada ranah kognitif menurut kategori Bloom yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis dengan penekanan pada asperk pengetahuan dan pemahaman yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa subyek penelitian.

  1. H.       Pendekatan Kontekstual

Metode mengandung unsure prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut Knowles (1977;133) dalam Sudjana (2005:14) metode adalah pengorganisasian peserta didik didalam upaya mencapai tujuan. Metode berkaitan dengan teknik yaitu langkah-langkah yang ditempuh dalam metode  untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Abdul Madjid (2006:136-137) metode dalam pendidikan merupakan cara yang ditempuh atau dipergunakan oleh guru dalam metode pembelajaran dapat beragam, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar yaitu :

  1. Berpusat pada siswa (Student Oriented)
  2. Belajar dengan melakukan (Learning by Doing)
  3. Mengembangkan kemampuan sosial (Learning To Life  Together)
  4. Mengembangkan keingintahuan atau imajinasi
  5. Mengembankan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah

Pembelajaran kontekstual atau dikenal istilah Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Mulyasa (2006:102) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan merasakan pentingnya belajar dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.

Dari pengertian tersebut terdapat tiga konsep dasar CTL yaitu :

  1. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan kepada proses pengalaman siswa secara langsung.
  2. CTL mendorong agar siswa dpat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga materi akan bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak mudah terlupakan.
  3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan artinya CTL bukan “hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari akan tetapi  bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru mengahdirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan sedikit demi sedikit dan proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya memberikan materi pemebelajaran berupa hapalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran.

Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan menunjang pembelajaran kontekstual. Hal ini sesuai dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan pentingnya lingkungan belajar dalam belajar efektif itu dimulai pembelajaran kontekstual, antara lain : dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari guru acting di depan kelas, siswa menonton ke siswa aktif bekerja dan bekary, pembelajaran harus berpusat pada bagaimana siswa. Guru mengarahkan pengetahuan baru mereka.

Sementara itu mennurut nurhadi (2004:148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah:

  1. Real Word Learning
  2. Mengutamakan pengalaman nyata
  3. Berpikir tingkat tinggi
  4. Berpusat pada siswa
  5. Siswa aktif, kritis dan kreatif
  6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
  7. Pendidikan bukan pengajarn atau instruction
  8. Memecahkan masalah
  9. Siswa acting, guru mengarahkan, bukan guru acting siswa menonton
  10. Hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan test

Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki cirri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif.

Proses pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.

  1. I.          Kerangka Berpikir

Dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPS guru dituntut untuk mampu menggali konsep, pengetahuan atau informasi dasar yang telah dimiliki oleh swasta dan memilahnya kedalam konsep atau pengetahuan yang benar dan membangunnya dalam pengetahuan yang tepat untuk pembentukan sikap yang baik.

Berdasarkan uraian di atas pendekatan kontekstual dimungkinkan termasuk salah satu dari sekian metode mengajar yang baik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS. Dengan metode ini guru dapat menggali konsep dan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh seorang siswa dan membangunnya dalam suatu konsep pengetahuan yang benar.

Pembelajaran pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran kelompok. Dalam proses pembelajaran kontekstual juga akan terjadi peristiwa pengajaran teman sebaya (peer teaching) yang cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran oleh guru. Dalam sistem pembelajaran kontekstual siswa akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan teman untuk mengembangkan diri sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.

Model pembelajaran kontekstual dikembangkan setidaknya untuk mencapai tiga tujuan dasar yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan social. Dalam pembelajaran  kontekstual akan mendorong siswa lebih berperan aktif dalam belajar  dengan  guru sebagai fasilitator  belajar sehingga hasil belajar akan lebih bermakna mendalam bagi siswa. Pada pembelajaran konvensional, guru yang lebih berperan aktif sebagai sumber belajar dn siswa hanya sebagai obyek pembelajaran yang cenderung bersifat pasif.

  1. Hipotesis Tindakan

Melalui penerapan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPS  siswa kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. C.       Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian tindakan kelas yang dalam bahasa inggris dikenal sebagai Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Kelas, dalam hal ini tidak terkait pada ruang kelas, tetapi dalam pengetian spesifik, kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar.

PTK dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu proses pembelajaran di kelas. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, dan bukan input kelas (silabus, materi dan sebagainya) ataupun output (hasil belajar).

PTK harus tertuju mengenai hal – hal yang terjadi di dalam kelas. Hasil penelitian tidak dimaksudkan untuk digeneralisasikan. Oleh karena itu penelitian ini tergolong sebagai penelitian kualitatif.

Secara kualitatif dapat dijelaskan bahwa penelitian ini, yakni : (1) dilakukan pada setting alamiah, yaitu lingkungan kelas, (2) data penelitian lebih bersifat deskriptif dan data yang akan terkumpul berbentuk kata-kata sehingga tidak menekankan pada angka , (3) lebih mengarah pada proses daripada hasil, (4) analisis data dilakukan secara induktif, (5) peneliti merupakan instrument kunci, dan (6) lebih menekankan pada makna (Sugiono,2005:10)

  1. D.       Setting Penelitian
    1. 8.      Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, pada siswa kelas III untuk mata pelajaran IPS, khususnya pada materi pekerjaan.

  1. 9.      Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010 / 2011 tepatnya pada semester ke-2 yaitu pada hari selasa – kamis, tanggal 1-3 Maret 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar yang efektif di kelas.

  1. 10.  Prosedur Kerja Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dua atau tiga siklus untuk melihat peningkatan kemajuan proses belajar siswa dan peningkatan hasil pembelajarannya

SIKLUS KE  – 1

Rencana tindakan siklus I, meliputi :

  1. Perencanaan

Sebelum tindakan dilakukan dibuat perencanaan berikut ini:

  1. Membuat rencana pembelajaran kontekstual
  2. Membuat lembar kerja siswa
  3. Membuat instrument yang digunakan dalam siklus
  4. Menyusun alat evaluasi pembelajaran
  1. Pelaksanaan tindakan

Penelitian tindakan dilaksanakan dalam tiga tindakan. Adappun langkah-langkah implimentasi tindakannya sebagai berikut :

  1. Membagi siswa dalam delapan kelompok
  2. Menyajikan materi pelajaran
  3. Diberikan materi diskusi tentang jenis-jenis pekerjaan
  4. Dalam diskusi kelompok , guru mengarahkan kelompok
  5. Salah satu dari kelompok diskusi membacakan hasil kerja kelompoknya
  6. Guru memberikan pertanyaan atau kuis
  7. Siswa diberi kesempatan untuk member tanggapan
  8. Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama
  9. Melakukan pengamatan atau observasi
  1. Pengamatan / observasi
    1. Situasi Kegiatan Belajar Mengajar
    2. Keaktifan Siswa
    3. Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok
  1. Refleksi

Kegiatan pembelajaran dianalisa dan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya.

SIKLUS KE  – 2

  1. Peerencanaan
    1. Membuat instrument yang digunakan dalam siklus PTK
    2. Menyusun alat evaluasi
  1. Pelaksanaan
    1. Membagi siswa dalam delapan kelompok
    2. Menyajikan materi pelajaran
    3. Diberikan materi diskusi
    4. Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
    5. Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
    6. Guru memberikan kuis atau pertanyaan
    7. Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan
    8. Penguatan dan kesimpulan secara bersama – sama
    9. Mmelakukakan pengamatan atau observasi
  1. Pengamatan / observasi
    1. Situasi kegiatan belajar mengajar.
    2. Keaktifan siswa
    3. Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok
  1. Refleksi

Kegiatan pembelajaran dianalisa dan sekaligus menyusunrencana perbaikan pada siklus berikutnya

  1. 11.  Metode pengumpulan data
    1. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, yaitu melalui pengamatan dan mencatat hal –hal yang terjadi kelas selama proses pembelajaran berlangsung baik menyangkut siswa maupun guru, kemudian guru member tes kepada siswa tentang materi yang diberikan,serta catatan – catatan lain yang terjadi di lapangan.

Hasil pengamatan didiskusikan oleh peneliti dan guru lain pada saat mengnalisa  data dan hal tersebut sangat berguna untuk membuat perencanaan dan tindakan pada siklus berikutnya.

  1. Alat pengumpulan data dalam penelit

Alat pengumpulan dataian tindakan kelas ini meliputi tes, observasi, kueioner dan diskusi sebagaimana berikut ini :

  1. Tes : menggunakan butir soal / instrument soal untuk mengukur hasil belajar siswa.
  2. Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
  1. 12.  Metode analisis data

Proses analisis data terdiri dari atas analisis pada saat penelitian di lapangan yaitu pada saat pelaksanaan kegiatan dan analisis terhadapa data yang telah terkumpul. Data yang terkumpul berupa hasil tes siswa, hasil observasi, dan catatan – catatan lain yang terjadi di lapangan. Tahap analisis data dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada dari berbagai sumber, kemudian menyusun, mengolah, dan menyajikan sesuai dengan kaidah – kaidah ilmiah sehingga menjadi data yang bermakna.

  1. 13.  Indicator keberhasilan

Indicator keberhasilan dalam penelitian ini mengacu kepada ketuntasan minimum ( KKM) yang telah di tentukan oleh sekolah, yaitu 65 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 70% selanjutnya siswa dikategorikan tuntas belajar apabila telah memperoleh nilai ≥ 65 dan apabila siswa memperoleh nilai <65 maka siswa tersebut belum tuntas belajar, selanjutnya pembelajaran dikatakan tuntas secara klasikal apabila ketuntasan hasil belajar mencapai ≥65.

Selain itu peneliti tindakan kelas ini berhasil apabila hasil pengamatan didapat ≥ 70% siswa berperan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPS terpadu di kelas.

  1. 14.  Penentuan kriteria keberhasilan

Analisis belajar siswa

(80-100)         = sangat baik

(60-79)           = baik

(40-59)           = cukup

(20-39)           = kurang

( < 19)            = sangat kurang

  1. 15.  Analisis dan refleksi

Penerapan pendekatan kontekstual di kelas III, SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

Jika dari data yang diperoleh menunjukkan ketidakberhasilan perlu diulangi lagi pada siklus kedua sehinggaindikator tercapai keberhasilannya.

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

  1. C.    Deskripsi Data
  2. Siklus pertama

Pada siklus pertama, pembelajaran kurang melibatkan siswa secara langsung dalam diskusi kelompok. Guru lebih banyak berperan dalam memberikan teori mengenai materi jenis-jenis pekerjaan. Guru menggunajan metode ceramah untuk menyampaikan materinya.

Proses pembelajaran siklus pertama terdiri dari satu minggu (dua kali pertemuan). Pertemuan pertama menyampaikan tujuan dan menjelaskan dengan pendekatan kontekstual, dilanjutkan dengan menunjukkan jenis-jenis pekerjaan

Pertemuan kedua membuat rangkuman atau kesimpulan, refleksi dan uji kompetensi, hasil uji kompetensi pada siklus I dapat dilihat pada table I

Table I. hasil uji kompetensi siklus I

No

Nama siswa

L/P

Nilai UH

Nilai siklus I

1

Abdulah darusalam

L

40

60

2

Firman Firdaus

L

50

75

3

Dini Amalia

P

50

80

4

Ahmad Javi

L

50

75

5

Siti Fatimah

P

75

85

6

Abdul Kohar

L

60

70

7

Nurhayati

P

55

65

8

 Chintia

P

65

75

9

Calvin Pratama

L

50

65

10

Ailia

P

70

70

11

Diah rahainuni

P

65

75

12

Tita Amalia

P

50

55

13

Yudha

L

50

55

14

Made candra

L

55

65

15

Mega Utami

P

70

80

Jumlah nilai

855

1050

Rata – rata

57

70

KKM

65

65

Jumlahh siswa tuntas

4

12

Jumlah siswa belum tuntas

11

3

% ketuntasan

26,67

80

  1. Siklus kedua

Pada siklus II mulai dilakukan tindakan, berdasarkan hasil pemantauan peneliti dan kolabolator, serta hasil refleksi siswa. Dalam proses pembelajaran siswa mulai dibagi dalam 8 kelompok, siswa secara langsung menyimak dari sesame temannya dalam menjelaskan materi dari kelompok lainnya

Proses pembelajaran siklus II terdiri dari I minggu ( 2 x pertemuan). Pertemuan pertama menunjukan contoh – contoh jenis pekerjaan dan manfaatnya dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan membuat rangkuman atau kesimpulan. Perrtemuan kedua refleksi dan uji kompetensi. Hasil uji kompetensi pada siklus II dapat dilahat pada table II

Table I. hasil uji kompetensi siklus I

No

Nama siswa

L/P

Nilai siklus I

Nilai siklus II

1

Abdulah darusalam

L

60

70

2

Firman Firdaus

L

75

80

3

Dini Amalia

P

80

90

4

Ahmad Javi

L

75

80

5

Siti Fatimah

P

85

90

6

Abdul Kohar

L

70

85

7

Nurhayati

P

65

70

8

 Chintia

P

75

80

9

Calvin Pratama

L

65

80

10

Ailia

P

70

85

11

Diah rahainuni

P

75

80

12

Tita Amalia

P

55

70

13

Yudha

L

55

70

14

Made candra

L

65

75

15

Mega Utami

P

80

90

Jumlah nilai

1050

1195

Rata – rata

70

79,67

KKM

65

65

Jumlahh siswa tuntas

12

15

Jumlah siswa belum tuntas

3

0

% ketuntasan

80

100

  1. D.    Pembahasan
  2. Siklus ke 1
    1. Perencanaan

Proses pembelajaran siklus 1 terbagi dalam  satu hari. Dalam perencana tindakan kelas ini, peneliti mengidentifikasi materi yang diteliti, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi dasar, memberikan contoh-contoh jenis-jenis pekerjaan. Mengembangkan instrument untuk pengamatan guru dan siswa pada kegiatan belajar mengajar, dalam penyampaian materi, peneliti menggunakan metode ceramah dan secara klasikal.

  1. Tindakan

Selanjutnya ketika peneliti melakukan tindakan pada tahap ini, guru melakukan apersepsi untuk memberikan motivasi dan arahan siswa untuk memasuki dapa kopetensi dasar menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang dipelajari, menyiapkan tujuan yang akan dicapai, menjelaskan langkah-langkah pembelajaran, guru menjelaskan contoh-contohny. Siswa menjawab pertanyaan yang teerdpat pada lembar kerja siswa. Bersamaan dengan itu guru memberikan bimbingan dan penilaian terhadap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kemudian guru membimbing siswa secara klasikal untuk membuat rangkuman atau kesimpulan dari hasil kegiatan.

  1. Observasi

Pada saat yang bersamaan, peneliti melakukan pengamatan dengan mengisi instrument yang sudah disiapkan yang meliputi: pengamatan kegiatan guru dan siswa setelah kegiatan berakhir.

  1. Refleksi

Melalui hasil pengamatan siklus 1, siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran dengan memperhatikan penjelasan pokok bahasan yang disampaikan guru dengan metode ceramah, walaupun pada aaspek perhatian dan keseriusan siswa mmendapat nilai baik, tetapi pada keaktifan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru masih dinilai kurang. Sehingga guru harus memberikan tugas yang ada di lembar kerja siswa (LKS) dan ternyata siswa aktif mencari sumber belajar dinilai cukup.

Berdasarkan siklus 1 diperoleh rata-rata nilai siswa 70, yang berarti mengalami  kenaikan 80% dari sebelumnya.

  1. Siklus ke 2
    1. Perencanaan

Dalam perencanaan tindkan kelas ini, peneliti menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran yaitu mengguakan metode pendekatan kontekstual. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok dalam satu kelas. Guru menyiapkan media pembelajaran berupa menyebutkan jens-jenis pekerjaan. Mengembangkan instrument untuk pengamatan guru dan siswa pada kegiatan belajar mengajar.

b.   Tindakan

Selanjutnya ketika peneliti melakukan tindakan pada tahap ini, guru melakukan apersepsi untuk memberikan motivasi dan arahan siswa untuk memasuki dapa kopetensi dasar menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang dipelajari, menyiapkan tujuan yang akan dicapai, menjelaskan langkah-langkah pembelajaran, guru menjelaskan contoh-contohny. Siswa menjawab pertanyaan yang teerdpat pada lembar kerja siswa. Bersamaan dengan itu guru memberikan bimbingan dan penilaian terhadap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kemudian guru membimbing siswa secara klasikal untuk membuat rangkuman atau kesimpulan dari hasil kegiatan.

  1. Observasi

Pada saat yang bersamaan, peneliti melakukan pengamatan dengan mengisi instrument yang sudah disiapkan yang meliputi: pengamatan kegiatan guru dan siswa setelah kegiatan berakhir.

  1. Refleksi

Melihat hasil pengamatan siklus 2 antusias siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, hal ini juga dapa dilihat dari penelitian dn konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru, juga termasuk pada saat siswa harus melakukan diskusi, karena selama ini guru dalam menyaampaikan pokok bahasan didominasi dengan metode ceramah. Pada siklus 2 ini guru menggunakan metode pendekatan kontekstual, dimana siswa mendapatkan pengalaman-pengalaman belajar untuk dapat merumuskan problema sendiri, mermuskan masalah sampai menganalisa yang akhirnya siswa dapat menarik kesimpulan.

Dalam aspek kerja sama antar anggota, kelompok ternyata masih kurang, hal ini disebabkan karena masing-masing anggota kelompok saling mengandalkan kepada anggota kelompok lainnya.

Berdasarkan tes akhir siswa pada siklus 2 nilai presentasi siswa dengan rata-rata 79,67, yang berarti mengalami kenaikan 20% (ketuntasan 80% pada siklus 1, naik menjadi ketuntasan 100% pada siklus 2) dari sebelum tindakan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pembelajaran dengan metode kontekstual dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar IPS khususnya materi menyebutkan jenis-jenis pekerjaan
  2. Dengan metode pendekatan kontekstual, siswa mendapatkan pengalaman belajar dengan mengembangkan proses-proses penemuan masalah dan mencari pemecahan masalah tersebut melalui tahapan-tahapan diskusi.
  3. Metode pendekatan kontekstual dapat menngkatkan hasil belajar siswa dari ketuntasan 26,67 % menjadi ketuntasan 80% dan akhirnya tuntas 100%
  4. Dengan metode pendekatan kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sebagai sumber belajar.
  1. Saran
  2. Pada guru diharpkan dapat menerapkan metode pendekatan kontekstual dalam pembelajarannya.
  3. Kepada sekolah diharapkan dapat memfasilitasi alat-alat dan bahan – bahan pelajaran IPS

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi dkk 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara

Blooms. (Anderson And David. R.L, Editor) (2001). A Taxonomy for Learning Teaching

and Assesing. Longman.Co.Ltd. London

Kamus Bahasa (1994:705)

Nasution Nur Wahyudin, Strategi Pembelajaran, IAIN Sumut. Medan

Whandie http://www.whandie.net.2007

LAMPIRAN

RENCANA PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran                      : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                     : III / I

Tema                                       : Jenis – Jenis Pekerjaan

Alokasi waktu                                    : 2 x 35 menit

 

 

  1. I.             STANDAR KOMPETENSI

Memahami jenis – jenis  pekerjaan

  1. II.          KOMPETENSI DASAR

Mengenal jenis-jenis pekerjaan

  1. III.       INDIKATOR
    1. Menjelaskan alas an orang harus bekerja
    2. Menjelaskan pentingnya memiliki semangat kerja
    3. Menjelaskan ciri – ciri orang yang memiliki semangat kerja
  1. IV.        TUJUAN PEMBELAJARAN

Siswa mampu menceritakan jenis pekerjaan

 

  1. V.           MATERI POKOK

Jenis – jenis pekerjaan

 

  1. VI.        METODE PEMBELAJARAN

–          Ceramah

–          Diskusi

–          Tanya jawab, dan

–          Pemberian tugas

 

  1. VII.     LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN
    1. Kegiatan awal
      1. Berdoa bersama
      2. Absensi
      3. Guru memberikan pengantar dengan bercerita dengan tema jenis-jenis pekerjaan
  1. Kegiatan inti
    1. Guru menanyakan cita-citaa setiap siswa
    2. Menyebutkan jenis-jenis pekerjaan masyarakat dilingkungan sekitar
    3. Melakukan wawancara profesi pekerjaan dengan masyarakat lingkungan sekitar atau dengan anggota keluarga yang mencakup jenis pekerjaan dan tempat pekerjaan
    4. Menyusun laporan wawancara atau menyusun rekaman hasil  wawancara.
    5. Kegiatan akhir
      1. Review mata pelajaran yang telah dipelajari
      2. Guru menanyakan apakah siswa sudah memahami mata pelajaran yang telah dipelajari
      3. Doa bersama(pulang)

 

  1. VIII.  SUMBER BELAJAR DAN SARANA
    1. Sumber belajar
    2. aku senang belajar tematik III
    3.  buku paket IPS
    4. Sarana
      1. Gambar-gambar tempat bekerja (kantor, pasar, rumah sakit dan sebagainya)
      2. Gambar macam-macam pekerjaan (pegawai kantor, perawat, penari, pengrajin dan sebagainya)
      3. Tape recorder

 

  1. IX.        PENILAIAN
    1. Unjuk kerja   : Siswa melakukan wawancara
    2. Tes lisan       : Tanya jawab
    3. Tes tertulis    : Menyusun hasil wawancara

Parung,  01 Maret 2011

Kepala SD N Bojong Sempu 02                                                           Guru kelas III

DJENAB                                                                     MUHAMAD GUNTUR

NIP : 195504071976012002                                       NIM : 1001037201

Karya ilmiah

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF

DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA

DISUSUN OLEH

Nama       :  MUHAMAD GUNTUR

Nim          :  1001037201

 

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH Prof. Dr. HAMKA

UHAMKA JAKARTA

 

 

KATA PENGANTAR

Bismillahirahhmanirrahim

Alhamdulillah segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan makalah ini, yang berjudul MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA.

Dalam penyusunan akalah  ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk penulis menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Dosen UHAMKA
  2. Kepala SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor
    1. Rekan guru sejawat
    2. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, banyak kekurangan dan keterbatasan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dalam bentuk apapun. Namun demikian, penulis harapkan semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dan penulis pada khususnya.

Bogor, Maret 2011

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………………. ii

Bab I Pendahuluan

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………………… 1
  2. Tujuan………………………………………………………………………………………………………….. 1

Bab II Model Pembelajaran Cooperative

  1. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative……………………………………………………….. 3
  2. Prinsip Dasar dan Ciri-Ciri  Model Pembelajaran Cooperative…………………………………….. 4
  3. Langkah-Langkah Pembelajaran Cooperative………………………………………………………… 5

Bab III Model Pembelajaran Cooperative Tipe STAD

  1. Pengertian Pembelajaran Cooperative Tipe STAD…………………………………………………… 7
  2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Cooperative Tipe STAD………………………………………… 8
  3. Materi Matematika Yang Relevan dengan STAD……………………………………………………. 10
  4. Keunggulan Model Pembelajaran Tipe STAD………………………………………………………… 10

Bab IV Kesimpulan Dan Saran

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………. 12
  2. Saran……………………………………………………………………………………………………………. 12

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber – sumber belajar yang ada.
B.     Tujuan

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk :

  1. Menambah wawasan bagi pembaca
  2. Menambah wawasan bagi guru nantinya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.

BAB II
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF

  1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.

Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

  1.  Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Nur (2000), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

  1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
  2.  Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
  3. kelompok mempunyai tujuan yang sama.
  4. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama  diantara anggota kelompoknya.
  5. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
  6. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
  7. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta
  8. mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
    Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
  1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
  3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
  4. Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain.
  1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat 6(enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif.

  1.  Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan        kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
  2. Menyajikan informasi.
    Guru menyajikan informasi kepada siswa.
  3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
    Guru menginformasikan pengelompokan siswa.
  4. Membimbing kelompok belajar.
    Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
  5.  Evaluasi.
    Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  6. Memberikan penghargaan.
    Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

BAB III
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

  1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.

  1.  Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Model STAD.
    1. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok
      Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 – 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :

a)    Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.

b)   Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.

  1.  Penyajian Materi Pelajaran.

a. Pendahuluan
Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya

b. Pengembangan
Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.

c. Praktek terkendali
Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

  1. Kegiatan kelompok
    Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
  2. .Evaluasi
    Dilakukan selama 45 – 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.
  3.  Penghargaan kelompok
    Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super.
  4. Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok
    Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain
  1. Materi Matematika yang Relevan dengan STAD.
    Materi-materi matematika yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggidan juga hapalan, misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan jam, dll. Dengan penyajian materi yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
  1.  Keunggulan Model Pembelajaran Tipe STAD
    Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok ter tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

  1.  Simpulan
    1.  Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda
    2. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
    3.  Pada intinya konsep dari model pembelajaran tipe STAD adalah Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut
  1. Saran
    1. .Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
    2. .Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA

 
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Sri Wardhani. (2006). Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Tim PPPG Matematika. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam
Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika.

Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.

 

 

 

 

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Calistung Siswa Kelas I SD Negeri Waru 01″ dengan baik.

 

DISUSUN OLEH

FITRI

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH Prof. Dr. HAMKA

UHAMKA JAKARTA

KATAPENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena atas Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas untuk membuat karya ilmiah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Calistung Siswa Kelas I SD Negeri Waru 01” dengan baik.

 

Penulisan karya ilmiah ini dimaksudkan untuk memenuhi syarat yang diwajibkan dalam Mata Kuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah (PSOS 4407/2SKS/Modul l-6) untuk mendapatkan penilaian dari tutor mata kuliah tersebut diatas.

 

Penulis menyadari bahwa di dalam penulisan karya ilmiah ini banyak dibimbing dan dibina oleh tutor Mata Kuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah yaitu Bapak Drs. Riyatno dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yaitu mulai dari pengelola Pokjar Parung Bapak Kartobi. N, S.P, keluarga, Bapak Kepala Sekolah, serta teman-ternan sejawat.

 

Oleh karena dalam kesempatan ini sepantasnya saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Bapk Drs. Riyaho selaku pembimbing;
  2. Bapk Kartobi. N, S.Pd selaku pengelola Pokjar UT Parung;
  3. Bapak H. Sarih S.Pd selaku Kepala SD Negeri Waru 01;
  4. Rekan-rekan sejawat di SD Negeri Waru 01; dan
  5. Suami dan anak-anak kami tercinta.

 

Akhirnya penulispun sadar bahwa karya ilmiah yang saya susm ini masih banyak kekurangannya oleh karena itu dalam kesempatan ini saya membuka kesempatan kepada dewan pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran yang dapat mernbantu ke arah yang lebih baik lagi sehingga tulisan ini dapat dibuat lebih baik dari yang ada sehingga bermanfaat bagi kita sekalian.

 

Bogor, 10 Juni 2011

Penulis

 

ABSTRAKSI

Belajar merupakan suatu kegiaan menurut anggapan setiap siswa sangat membosankan. Hal itu terbukti dengan adanya kenyataan yang dialami oleh penulis sebagai guru, setiap akan dimulai pembelajaran akan terlihat bahwa siswa enggan untuk mengikuti pelajaran itu.

Dari kenyataan tersebut di atas, maka penulis merasa sangat perlu untuk mengadakan upaya peningkatan motivasi belajar siswa yaitu dengan cara:

  1. Pemberian hadiah (reward) berupa nilai atau tanda bintang bagi siswa yang mempunyai semangat belajar tinggi, hal ini terbukti dengan peningkatan nilai tiap mata pelajaran terutama calistung bagi siswa kelas I SD Negeri Waru 01.
  2. Mengikut sertakan siswa dalam setiap kegiatan perlombaan calistung yang diadakan.

Dengan adanya cara pembelajaran seperti yang tersebut diatas, telah dapat memberi motivasi kepada siswa untuk meningkatkan semangat belajamya terutama belajar calistung bagi siswa kelas I SD. Ini dapat dibuktikan dengan terus meningkatnya nilai prestasi siswa dalam pembelajaran pada tiap mata pelajaran.

Namun demikian pennulis masih terus mengadakan penelitian agar dapat memaksimalkan jalannya pembelajaran dengan lebih efektif, efisien dan menarik agar tercapai tujuan penelitian ini, yaitu meningkatkan motivasi belajar calistung siswa khususnya siswa kelas I SD Negeri Waru 01.

Usaha penelitian baru berakhir setelah penulis berhasil medapatkan data secara teoritis bahwa meningkatkan motivasi dalam belajar calistung menempati urutan utama dalam pembelajaran.

Dengan diperolehnya data secara teoritis yang dibuktikan melalui data empiris dalam penelitian yang penulis laksanakan maka penulis berkesimpulan bahwa peningkatan motivasi dalam belajar itu sangat perlu diadakan.

Pada akhirnya penelitian yang penulis laksanakn jika dihubungkan dengan hipotesis tersebut, terbuki kebenarannya yaitu meningkatkan motivasi belajar dengan pencapaian nilai prestasi belajar yang sernakin meningkat setelah dilaksanakan dan diuji cobakan melalui proses pembelajaran di kelas.

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar  ……………………………………………………………………..  iv

Abstrak   …………………………………………………………………………….   v

Daftar Isi ……………………………………………………………………………. vii

BAB I PENDAHIJLUAN

  1. Latar Belakang …………………………………..…………………………….   1
  2. Rumusan Masalah  …………………………….……………………………….   2
  3. Tujuan Penelitian  …………………………………..…………………………..   2
  4. Manfaat Hasil Penelitian  ……………………………..………………………..   3

BAB II PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

  1. Kajian Teoritis
  2. RencanaPerbaikan

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

  1. Ternpat dan Walau Pelaksanaan
  2. Prosedur Pelaksanaan

BAB IV TEMUAN

  1. Pengolahan Data
  2. Deskripsi Temuan dan Refleksi
  3. Pembahama

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

  1. Kesimpulan
  2. Saran dan Tindak Lanjut

 

DAFTAR PUST

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Letar Balakang

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada Rekarnas tahun 1987 telah menetapkan kebijaksanaan antara lain menyempurnakan sekolah dasar sebagai tempat untuk mengajarkan tiga kemampuan dasar kepada siswa yaitu baca, tulis dan hitung karena sekolah dasar sebagai pembentuk moral dasar manusia. Baca, tulis, dan hitung merupakan bidang garapan yang memegang peran penting dalam pembelajaran.

Kemampuan calistung menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan lain, baik dalam kehidupan akademik di sekolah mauprm dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kemampuan calistung siswa akan memperoleh pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, perkembangan sosial, daya nalar, dan emosional.

Hakikat calistung adalah kegiatan baca, tulis dan hitung yang rnerespon lambang-lambang cetak atau tulis dengan menggunakan pengertian yang tepat. Namun berdasarkan pengalaman mengajar penulis pada hampir setiap siswa mempunyai rasa keengganan dalam belajar, terutama belajar calistung. Agar siswa merasa termotivasi dalam belajar calistung cara guru dalam mengajarpun harus benar, dimulai dari kelas rendah dan sepenuhnya diajarkan di kelas l, 2, dan kelas 3.

Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa guru telah berhasil dalam meningkatkan motivasi belajar calistung siswa kususnya di kelas 1 sekolah dasar adalah siswa merasa senang dalam setiap kegiaan belajar. Pengalaman penulis sebagai guru kelas 1 setiap diadakan kegiatan belajar siswa terlihat kurang berminat untuk mengikutinya, sehingga kegiatan belajar tidak mencapi target yaitu siswa kelas 1 marnpu belajar calistung setelah 3 bulan masuk sekolah. Menurut asumsi penulis pemberian motivasi sangat diperlukan untuk meningkatkan semangat belajar calistung siswa.

 

 

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis mengangkat permasalahan ini untuk dijadikan bahan laporan teknik penulisan karya ilmiah dengan harapan siswa mampu/termotivasi dalam meningkatkan semangat belajar khususnya calistung. Agar pengajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan target yaitu siswa kelas rendah selalu termotivasi dalam kegiatan belajar calistung.

  1. Rumusan Masalah

Permasalahan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana cara meningkatkan motivasi siswa dalam belajar calistung?
  2. Bagaimana cara menarik minat/motivasi siswa dalam belajar calistung?

 

  1. Tujuan

Berdasarkan permasalahan ini penulis menentukan tujuan penelitian sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan cara meningkatkan motivasi siswa dalarn belajar calistung.
  2. Mendeskripsikan cara menarik minat siswa agar mereka merasa termotivasi untuk selalu belajar calistung.

 

  1. ManfaatPenelitian

Manfaat yang diharapkan dalan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Secara khusus bagi guru, yaitu untuk meningkatkan pemahaman tentang teknik menulis karya ilmiah, adapun secara umum yaitu meningkatkan profesionalisme sebagai guru.
  2. Bagi siswa, yaitu agar motivasi belajar siswa dapat meningkat dan hasil belajar calistungnya semakin baik.
  3. Bagi sekolah, yaitu agar memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan.

 

 

BAB II

PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

  1. Kaiian Teoritis
  2. Segi Budaya

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan pengetahuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (pasal 3 UU No. 20 tahun 2003). Oleh karena itu meningkatkan motivasi dalam belajar adalah rnasalah yang harus mendapat perhatian siapapun baik kita sebagai guru, orang tua murid, personil sekolah maupun kepala sekolah (Badan Diklat Kabupatn Bogor). Selain itu “media pembelajaran pun menrupakan cara/teknik penyajian yang digunakan guru dalam proses pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran” (A. Muhalis, 1994).

Jadi kesimpulan dari segi budaya adalah pendidikan merupakan program nasional yang bertujuan mengembangkan pengetahuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa.

 

  1. Segi Keterampilan

“Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan guru merupakan suatu komponen yang mempunyai peran sangat penting dan merupakan ujung tombak dalam peningkatan matu pendidikan” (Dra. Giri Verianti). “Oleh karena itu guru harus mampu menghayti tujuan-tujuan pendidikan. Baik secara nasional, kelembagaan, kurikulum sampai tujuan mata pelajaran yang diberikanya” (Djaman Santori, dkk).

Jadi kesimpulan dari segi keterampilan yaitu agar dapat meningkatkan proses pembelajaran dan mutu pendidikan guru harus dapat bertindak dan melaksanakan pembelajaran seefisien mungkin. Hal itu bisa terjadi jika guru sudah dapat menghayati tujuan-tujuan pendidikan seperti yang tercantum dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 pasal 3.

 

  1. Segi Kebahasaan

“Bahasa adalah segala bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan seseorang disimbolkan agar dapat menyarnpaikan arti kepada orang lain” (Mulyani Susanti, Nana Syaodih). Sehubungan dengan itu ilmu pengetahuan yang lebih sering disebut statistik adalah “metode ilmiah yang mempelajari pengumpulan, pengaturan, perhitungan, penggambaran, dan penganalisaan data serta penarikan kesimpulan yang valid berdasarkan penganalisaan yang dilakukan dan pembuatan keputusan yang rasional sangat memungkinkan terjadinya komunikasi” (Nar Herrhyanto dan H.M. Akib Hamid).

Kesimpulan dari segi bahasa yaitu bahasa adalah segala bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan disimbolkan agar dapat dimengarti orang lain, seperti pengaturan, perhitungan penggambaran harus dengan benar dan valid.

 

  1. Rencana Perbaikan
  2. Identifikasi Masalah

Pada pelaksanaan pembelajaran calistung di kelas 1 ditemukan bahwa dari 30 siswa ternyata hanya 5 siswa saja yang mempunyai motivasi untuk mengikuti pelajaran. Dari hasil identifikasi dan diskusi dengan teman sejawat disimpulkan adanya permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut, yaitu:

  1. Siswa masih memiliki rasa keengganan untuk belajar calistung karena tidak adanya motivasi yang dapat menarik minat siswa untuk belajar; dan
  2. Siswa kurang memiliki pemahaman yang cukup baik tentang belajar calistung.

Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat penulis menyimpulkan bahwa faktor penyebab siswa merniliki rasa keengganan untuk belajar dan kurang memiliki pemahaman yang baik tentang calistung adalah:

  1. Guru tidak memberi motivasi yang dapat membuat siswa semangat untuk belajar calistung; dan
  2. Guru tidak memberi penjelasan yang dapat dimengerti siswa tentang manfaat belajar calistung.

 

 

  1. Rumusan Masalah

Dari hasil identifikasi masalah ini, maka dapat dijadikan suatu acuan untuk merumuskan masalah bagi penelitian ini.

Adapun rumusan masalahnya yaitu:

  1. Bagaimana cara memotivasi siswa agar mempunyai semangat dalam belajar terutama calistung; dan
  2. Metode atau cara belajar yang bagaimana yang dapat membangkitkan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran.

 

  1. Waktu dan Tempat
  • Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada pukul 08.30 yaitu pada jam pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, hari rabu, kamis dan jum’at tanggal tanggal 18, 19 dan 20 Mei tahun 2011.

  • Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Waru 01 Desa Waru Kecamatan Parung Kabupaten Bogor di tempat penulis mengajar.

Adapun alasan penulis memilih lokasi ini adalah ingin membiasakan para siswa untuk selalu rajin dan semangat dalam belajar agar nilai prestasi tiap mata pelajaran khususnya calistung siswa jadi lebih baik lagi.

 

  1. Populasi dan Sampel

Pada penelitian ini penulis akan menganbil populasi dari siswa kelas 1 SD Negeri Waru 01 dengan sampel data sebanyak 30 orang.

 

  1. Rencana Perbaikan

Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa tentang calistung penulis merencanakan tindakan perbaikan pembelajaran yang terbagi dalam tiga siklus perbaikan” yaitu sebagai berikut:


Siklus Pertama

Fokus perbaikan pada siktus pertama adalah meningkatkan motivasi terhadap belajar calistung melalui pemberian hadiah bagi siswa yang bisa mengikuti perlombaan calitung.

Berdasarkan siklus pertama tersebut penulis merencanakan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

  1. Kegiatan Awal (10 menit)
  2. Menyiapkan alat peraga berupa soal calistung yang mengandung tantangan daya kreatifitas siswa.
  3. Mengkondisikan kelas.
  4. Melakukan tanya jawab tentang apa yang akan membuat siswa merasa senang dalam belajar.

Misalnya:

  • Belajar yang bagaimana yang kalian sukai?
  • Apa sebabnya kalian tidak suka belajar?
  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

 

  1. Kegiatan Inti (45 menit)
  2. Guru membagikan lembar soal calistung kepada siswa.
  3. Guru meminta siswa untuk membaca soal yang ada pada lembar soal satu persatu.
  4. Guru meminta siswa untuk bertanya jika ada soal yang tidak dimengerti siswa setelah membacanya.
  5. Guru menuliskan pertanyaan siswa di papan tulis tentang soal yang kurang dimengerti.
  6. Guru memberi penjelasan dan contoh tentang pertanyaan siswa mengenai soal yang belum dimengerti.
  7. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal calistung yang telah dibagikan kepada siswa.
  8. Guru memberikan pujian dan penghargaan kepada siswa yang dapat menjawab soal.
  9. Guru memberi penilaian

 

 

  1. Kegiatan Akhir (5 menit)
    1. Guru memberi arahan singkat agar siswa lebih semangat belajar.
    2. Guru memberi tugas atau pekerjaan yang bersifat memberi motivasi bagi siswa untuk belajar.

 

Siklus Kedua

Fokus perbaikan pada siklus kedua adalah meningkatkan motivasi belajar calistung siswa mengenai cara mernbacanya melalui alat peraga teks bacaan dan gambar yang sesuai dengan bacaan.

Berdasarkan siklus kedua tersebut, peneliti merencanakan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

  1. Kegiatan Awal (10 menit)
  2. Menyiapkan alat peraga berupa teks bacaan dan gambar-gambar yang sesuai.
  3. Mengkondisikan kelas.
  4. Guru memotivasi siswa dengan menunjukkan lima macam gambar kegiatan.
  5. Melakukan tanya jawab tentang apa yang akan membuat siswa merasa senang dalam belajar.

Misalnya:

  • Ayo sebutkan orang sedang melakukan kegiatan apa pada gambar yang ibu tunjuk!
  • Ayo tuliskan nama kegiatan itu pada papan tulis!
  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

 

  1. Kegiatan Inti (45 menit)
  2. Guru membagi siswa ke dalam lima kelompok dan membagikan teks bacaan pada masing-masing kelompok.
  3. Guru menunjukkan gambar macam-macam orang yang sedang melakukan kegiatan di papan tulis.
  4. Guru menugaskan kepada setiap kelompok untuk berdiskusi dan menempelkan teks bacaan yang sesuai dengan gambar kegiatannya.
  5. Guru bekeliling di dalam kelas untuk melakukan bimbingan dan perhatian secara langsung kepada kelompok siswa terutama yang mengalami kesulian.
  6. Secara bergantian perwakilan tiap kelompok membacakan teks bacaan yang diberikan guru.
  7. Guru memberi pujian yang membangkitkan motivasi siswa untuk belajar calistung.
  8. Guru memberikan Penilaian.

 

  1. Kegiatan Akhir (5 menit)
  2. Guru memberikan tugas atau pekerjaan rumah.
  3. Guru memberi motivasi agar siswa semangat dalam belajar.

 

Siklus Ketiga

Fokus perbaikan pada siklus ketiga adalah meningkatkan motivasi siswa dalam belajar calistung siswa mengenai soal hitungan melalui bimbingan dan perhatian.

Berdasarkan siklus ketiga tersebut peneliti merencanakan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :

  1. Kegiatan Awal (10 menit)
  2. Menyiapkan alat peraga berupa lembar soal hitungan.
  3. Mengkondisikan kelas.
  4. Memotivasi siswa untuk menyanyikan lagu “Mari Berhitung”.
  5. Melakukan tanya jawab, misalnya:
  • Siapa yang sudah bisa berhitung sampai 20?
  • Sebutkan 5 hasil penjumlahan yang kamu bisa!
  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

 

  1. Kegiaan Inti (45 menit)
  2. Guru menuliskan soal penjumlahan di papan tulis.
  3. Guru meminta siswa menyebutkan hasil penjumlahan yang ada di papan tulis.
  4. Guru membagikan lembar soal kepada tiap siswa.
  5. Guru berkeliling di dalam kelas untuk memberikan bimbingan dan perhatian kepada siswa dalam mengerjakan soal terutama pada siswa yang masih kesulian.
  6. Guru memberi contoh cara mengerjakan soal penjumlahan dengan tepat dan benar.
  7. Guru memberi pujian dan motivasi kepada siswa yang telah mengerjakan soal latihan.
  8. Guru memberi Penilaian.

 

 

  1. Kegiatan Akhir (5 menit)
    1. Guru mernberi tugas atau pekerjaan rumah
    2. Guru memberi motivasi agar siswa senang belajar berhitung

 

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

 

  1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat perbaikan ditaksanakan di ruang kelas I SD Negeri Waru 01 Desa Waru Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. Adapun waktu pelaksanaannya dibagi menjadi 3 siklus, sebagai berikut:

No. Tanggal Keterangan
1

2

3

   

 

  1. Prosedur Pelaksanaan
  2. KegiatanAwal
    1. Menyiapkan alat peraga berupa lembar soal penjumlahan.
    2. Mengkondisikan kelas.
    3. Memotivasi siswa dengan melakukan tanya jawab dan menyanyikan lagu.

 

  1. Kegiatan Inti
    1. Membimbing siswa berhitung dengan alat peraga lembar soal.
    2. Memberikan contoh kepada siswa cara mengerjakan soal penjumlahan.
    3. Memberikan soal latihan berhitung kepada siswa secara intensif.
    4. Memberi perhatian dan bimbingan kepada siswa yang masih kesulitan dalam berhitung.
    5. Mengevaluasi keberhasilan siswa dalam berhitung, dengan cara memberikan soal hitungan, kemudian siswa dites untuk menjawab soal tersebut.

 

 

Soal tes lisan

Hitung dan kerjakanlah soal-soal di bawatr ini dengan t€Ft!

  1. 15 + 243 = ……
  2. 29 – 6 = ……
  3. 20 + 12 – 10 = ……
  4. 9 + 6 = ……
  5. 12 + ll = ……
  6. 18 – 4 = ……
  7. 20 – 0 = ……
  8. 16 + 4 = ……

Indikator Penilaian

Indikator

Skor

  1. Menyelesaikan soal dengan benar dan tepat
  2. Menyelesaikan soal dengan benar tapi kurang tepat
  3. Menyelesaikan soal masih melakukan kesalahan
  4. Belum dapat menyelesaikan soal latihan

100

70 – 95

50 – 65

< 45

 

  1. Kegiatan Akhir
    1. Memberi tugas atau pekerjaan rumah.
    2. Memberi motivasi yang dapat meningkatkan semangat belajar siswa dalam berhitung.

 

 

BAB IV

TEMUAN

(Hasil yang Diperoleh)

 

  1. Pengolahan Data

Berdasarkan hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran dalam 3 siklus, nilai yang diperoleh siswa adalah sebagai berikut :

 

Tabel Hasil Penilaian Siklus ke I

No

Nama

L/P

Nilai Siklus 1

       
       
       
       

 

Berdasarkan hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus pertama sudah meningkat. Nilai rata-rata kelas semula 61 menjadi 64. Namun masih ada 13 siswa yang nilainya belum mencapai 70.

Untuk itu penulis merencanakan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua.

Tabel Hasil Penilaian Siklus ke I dan 2

No

Nama

L/P

Nilai Siklus 1

Nilai siklus 2

         
         
         
         

 

Berdasarkan hasil pelaksanaan perbaikan pada siklus kedua ini ternyata hasilnya semakin meningkat. Nilai rata-rata kelas yang semula 64 menjadi 68,4, berarti naik 4,2 %. Namun masih ada 7 siswa yang nilainya belum mencapai 70.

Untuk itu peneliti merencanakan kembali perbaikan pembelajaran pada siklus ketiga.

Tabel Hasil Penilaian Siklus 1,2, dan 3

No

Nama

L/P

Nilai Siklus 1

Nilai Siklus 2

Nilai Siklus 3

           
           
           
           

Berdasarkan hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus ketiga ini ternyata hasil belajr siswa lebih meningkat lagi dari siklus kesatu dan kedua.

Nilai rata-rata yang semula 68,4 menjadi 71, berarti naik 3,4%. Namun masih ada 5 siswa yang nilainya belum mencapai 70.

Untuk itu penulis berusaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa tersebut dengan memberikan motivasi dan bimbingan khusus.

 

  1. Deskripsi Temuan dan Refleksi

Setelah melaksanakan pembelajaran dan menurut hasil pengamatan saya temukan beberapa masalah yang membuat hasil belajar siswa kurang maksimal. Permasalahan itu di antaranya :

  1. Siswa masih mempunyai rasa keengganan untuk belajar karena belum adanya daya tarik dan motivasi yang dapat membangkitkan semangat belajar mereka.
  2. Siswa kurang memiliki daya konsentrasi yang cukup baik untuk belajar calistung.

Oleh karena itu penulis melakukan perencanaan perbaikan pembelajaran sebanyak 3 siklus, yaitu:

  1. Pada siklus pertama penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran 1, hasilnya meningkat. Nilai rata-rata kelas yang semula 62 menja 64.
  2. Pada siklus kedua, penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran 2, hasilnya lebih meningkat lagi. Nilai rata-rata kelas menjadi 68,4.
  3. Pada siklus ketiga penulis melaksanakan perbaikan pembelajaran 3, hasilnya lebih meningkat lagi dari siklus pertarna dan kedua Nilai ratarata kelas mencapai 71.

 

Saya telah melakukan upaya perbaikan dan peningkatan hasil belajar siswa terhadap motivasi belajar calistung dengan menggunakan alat peraga yang sesuai, pemberian contoh yang menarik, latihan dan bimbingan serta perhatian.

Hal ini dapat dilihat pada tabel dan gafik di bawah ini:

No

Nilai

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

1

2

3

4

5

6

7

80

75

70

65

60

55

50

Prosentase (%)

 

Grafik Pengolahan Data

Mata Pelajaran       : Bahasa Indonesia dan Matematika

Materi Pokok         : Motivasi Belajar Calistung

 

  1. Pembahasan

Poses pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila guru memiliki kemampuan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Untuk itu guru harus memiliki kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar secara terencana sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari hasil refleksi pada siklus perbaikan ke 1, ke 2, dan ke 3 ternyata ada peningkatan hasil belajar siswa dalam hal kemampuan belajar calistung hal ini terjadi setelah guru meningkatkan efektivitas jalannya proses pembelajaran dengan media dan metode pernbelajaran disertai bimbingan.

Media pembelajaran merupakan sarana yang dapat mernbantu proses belajar mengajar siswa, hal ini sejalan dengan pendapat NEA (1961) dalarn Asep Herry Hemawan (2007) mengungkapkan bahwa “media pembelajran sebagai sarana komuniikasi baik dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk perangkat kerasnya”. Selain itu, Schramm (1977) dalam Asep Herry Hernawan (2007) mendefinisikan bahwa “media pembelajaran sebagai teknlogi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelaiaran”.

Media pernbelajaran adalah cara dalam menyajikan (menguraikan materi) karena itu guru harus memilih metode dan alat peraga yang sesuai dengan pernbelajaran. Penggunaan metode dan alat peraga yang bervariasi sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa dapat meningkatkan nilai siswa dalam proses belajar mengajar.

Guru juga harus meningkatkan efektivitas jalannya proses pembelajaran dengan memberikan perhatian yang merata dan bimbingan yang lebih tepat kepada setiap siswa. Pemberian penguatan atau motivasi yang tepat dan bermakna kepada siswa, berupa pujian dan dorongan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diajarkan. Hal ini sejalan dengan arti dan tujuan penguatan yang dikemukakan Udin Wiraputra (2004) yang menyatakan bahwa “penguatan adalah respon yang diberikan atau perbuatan yang dianggap baik yang dapat terulangnya perbuatn tersebut”.

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LATNJUT

 

  1. Kesimpulan

Setelah melaksanakan serangkaian proses pembelajaran yang penulis tuangkan dalam teknik menulis karya ilmiah ini, penulis berkesimpulan bahwa motivasi belajar calistung ditingkatkan melalui :

  1. Penggunaan alat peraga yang efektif dan bervariatif.
  2. Pemberian contoh dan latihan intensif.
  3. Pemberian perhatian dan bimbingan yang tepat.

 

  1. Saran dan Tindak Lanjut

Dari hasil penelitian teknik penulisan karya ilmiah ini, pemilihan dan penggunaan alat peraga yang efektif dan bervariatif merupakan salah satu komponen penting yang berpengaruh besar terhadap tingkat keberhasilan hasil belajar siswa. Hal ini tergambar dalam rangkaian pelaksanaan pembelajaran antara siklus l, siklus 2, dan siklus 3 yang penulis paparkan dalam teknik penulisan karya ilmiah ini.

Yang menjadi permasalahan adalah perlunya pemikiran dan kreatifitas yang ekstra dari guru untuk memilih, mencari dan menemukan berbagai alternatif metode dan alat peraga yang tepat dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Penulis mengharapkan kepada rekan se-profesi agar dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat dan dapat diiadikm sebagai panduan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran selanjutnya.

 

DATTAR PUSTAKA

 

Hernawan, Asep Herry. 2007. Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Jakarta: Universitas Terbuka

Tarigan, Djago. 2005. Pendidikm Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah Jakarta: Universitas Terbuka

Wardhani, I.G.A.K dan Wihardit, Kuswaya. 2007. Penelitian Tindakan Kelas Jakarta: Universitas Terbuka

Winataputra, Udin. 2004. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Universitas Terbuka

Wardhani, I.G.A.K dkk. 2009. Teknik Menulis Karya llmiah, Jakarta: Universitas Terbuka

Herrhyanto, Nar, Hamid. Akib. H.M, Statistik Dasar. 2008, Jakarta Universitas Terbuka

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TINDAKAPENELITIAN N KELAS ( PTK )

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

PADA MATA PELAJARAN IPS SISWA KELAS III

DI SD NEGERI BOJONG SEMPU 02 KECAMATAN PARUNG KABUPATEN BOGOR.

DISUSUN OLEH

Nama         :  MUHAMAD GUNTUR

Nim             :  1001037201

 

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH Prof. Dr. HAMKA

UHAMKA JAKARTA

 

 

ABSTRAK

 

Mata pelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. Rendahnya hasil belajar mata pelajaran IPS disebabkan oleh banyak factor antara lain:

  1. Banyaknya materi yang harus dipelajari sedangkan jumlah jam belajar berkurang.
  2. Siswa menganggap bahwa mata pelajaran IPS harus dihapal, hal ini merupakan momok tersendiri bagi siswa.
  3. Pada umumnya, guru kurang bervarisi dalam menggunakan metode pembelajaran sehingga siswa merasa bosan.

 

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta motivasi siswa untuk mempelajari mata pelajaran IPS yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil lbelajar siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penggunaan pendekatan kontekstuatul diharapkan dapat membantu siswa untuk membantu meningkatkan hasil belajarnya.

Penelitian ini dilakukan di kelas III SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan parung Kabupaten Bogor, pada bulan Maret 2011. Melalui dua siklus penelitian, tiap siklus dilakukan dengan dua kali pertemuan dan diakhiri dengan tes tertulis. Subyek penelitian adalah siswa dan guru. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi dan hasil tertulis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 (satu) ke siklus 2(dua). Belajar dengan cara berdiskusi mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar serta menumbuhkan rasa social yang tinggi di anatra anggota kelompok.

Kesimpulan penelitian adalah menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirahhmanirrahim

 

Alhamdulillah segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas (PTK) ini tepat pada waktunya. Tujuan penulis melakukan penelitian tindakan kelas ini untuk mengetahui peningkatan, pemahaman : “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL” pada mata pelajaran  IPS siswa Kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor

 

Dalam penyusunan PTK  ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk penulis menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Kepala SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor
    1. Rekan guru sejawat
    2. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian PTK ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini banyak kekurangan dan keterbatasan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dalam bentuk apapun. Namun demikian, penulis harapkan semoga penelitian ini dapat bermanfaat untuk rekan-rekan guru di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung kabupaten Bogor.

 

Bogor, Maret 2011

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Abstrak………………………………………………………………………………………………………………… i

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………………… iii

Bab I Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………… 1
  2. Identifikasi Masalah……………………………………………………………………………………… 2
  3. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………………. 2
  4. Tujuan Penelitian………………………………………………………………………………………….. 2
  5. Manfaat Penelitian………………………………………………………………………………………… 2

 

Bab II Tinjauan Teori, Kerangka Berpikir Dan Hipotesis Tindakan

  1. Hakekat Belajar……………………………………………………………………………………………… 4
  2. Hakekat  Hasil Belajar…………………………………………………………………………………….. 5
  3. Pendekatan Kontekstual…………………………………………………………………………………. 6
  4. Kerangka Berpikir………………………………………………………………………………………….. 8
  5. Hipotesis Tindakan…………………………………………………………………………………………. 9

 

Bab III Metodologi Penelitian

  1. Pendekatan Penelitian…………………………………………………………………………………… 10
  2. Setting Penelitian
    1. Tempat Penelitian……………………………………………………………………………………. 10
    2. Waktu Penelitian…………………………………………………………………………………….. 10
    3. Prosedur Kerja Penelitian…………………………………………………………………………. 11
    4. Metode pengumpulan data……………………………………………………………………….. 13
    5. Metode analisis data………………………………………………………………………………… 13
    6. Indikator keberhasilan……………………………………………………………………………… 13
    7. Analisis dan refleksi………………………………………………………………………………… 14

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

  1. Hasil Penelitian……………………………………………………………………………………………… 15
  2. Pembahasan………………………………………………………………………………………………….. 17

 

Bab V Kesimpulan Dan Saran

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………….. 20
  2. Saran…………………………………………………………………………………………………………… 20

Daftar Pustaka

Lampiran

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.             Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan studi gabungan ilmu – ilmu sosial yang terpadu ataupun terpisah atas ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu geografi dan sosiologi antroplogi. Materi IPS digali dari segala aspek kehidupan praktis sehari – hari di masyarakat. Dan bahan pelajarannya diracik sedemikian rupa, agar dapat  menarik perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu mencapai hasil belajar yang melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Namun sering kali hasil proses pembelajaran tidak sesuai dengan harapan, hal ini disebabkan oleh banyaknya kendala yang dihadapi. Antara lain disebabkan oleh terabatasnya media belajar, terbatasnya sumber belajar, kurangnya motivasi belajar siswa, metode belajar yang membosankan.

Pada kenyataannya, dalam proses belajar mengajar guru kurang memperhatikan kondisi psikis siswa. Siswa sering kali di jadikan obyek dalam proses belajar mengajar, guru aktif menjelaskan sedangkan siswa pasif mendengarkan (Teacher Oriented). Dampaknya siswa menjadi jenuh dan bosan, yang akhirnya timbul paradigma atau anggapan dari siswa bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran yang sulit dan tidak menyenangkan. Kondisi seperti ini mengakibatkan hasil belajar siswa tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Paradigma atau anggapan siswa ini bisa kita ubah dengan mengkondisikan siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar dibandingkan dengan guru. Pendekatan kontekstual memungkinkan pembelajaran yang tenang dan menyenngkan. Karena pembelajaran dapat dilakukan secara lamaiah, sehingga siswa dapat mempraktekan secara langsung yang dipelajarinya.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mendorong siswa memahami hakekat, makna dan manfaat belajar sehingga memnugkinkan siswa rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar.

Dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPS kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor diharapkan dapat merubah pembelajaran IPS menjadi lebih optimal, inovatif, kreatif, menyenangkan dan berbobot. Diharapkan siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

 

  1. B.              Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka masalah-masalah yang ada dapat diidentifikasikan, yaitu

  1. Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa?
  2. Kendala apa saja yang ditemui dalam proses pembelajaran IPS?
  3. Apakah penggunaan pendekatan pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
  4. Apakah dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS?

 

  1. C.             Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah-masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS?”

 

  1. D.             Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah pendekatan kontektual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas III di SD Negeri Bojng Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.

 

  1. E.              Manfaat Penelitian
    1. Bagi Siswa
      1. Membiasakan siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.
      2. Mengubah pola pikir siswa bahwa IPS adalah pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan menjadi pelajaran yang menyenangkan serta berguna dalam kehidupan sehari – hari.

 

  1. Bagi Guru
    1. Untuk memperbaiki metode pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar siswa.
    2. Membiasakan guru untuk berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran.
    3. Meningkatkan profesionalisme guru melalui penelitian yang dilakukan.

 

  1. Bagi Sekolah
    1. Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
    2. Untuk meningkatkan kinerja guru
    3. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
    4. Untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan sekolah,

 


 

BAB II

TINJAUAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR

DAN HIPOTESIS TINDAKAN

 

  1. F.        Hakekat Belajar

Optimalisasi kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya factor metode/teknik mengajar guru. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga sisswa tidak jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang ada dalam kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehingga siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudjana (2005:69).

Pengertian optimalisasi pembelajaran menurt tim penyusun Kamus bahasa (1994:705), optimalisasi merupakan proses, cara, atau perbuatan mengoptimalkan. Mengoptimalkan berarti menjaadikan paling baik, paling tinggi atu paling menguntungkan.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2006:39), belajar dan mengajar merupakan yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal. Dalam perppisahan raga, jiwa bersatu antara guru dan anak didik.

Menurut Syaiful, ciri-ciri belajar yaitu :

  1. Belajar mengajar memiliki tujuan
  2. Ada suatu proses
  3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi khusus
  4. Ditandai dengan aktivitas anak didik
  5. Guru berperan sebagai ppembimbing
  6. Dibutuhkan disiplin
  7. Ada batas waktu
  8. Evaluasi

Menurut Arif Suhadi (1984:4) dalam Whandie http://whandie.net, 2007 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses membuat orang belajar, guru bertugas membantu orang belajar dengan cara memanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai strategi pembelajaran yang ada. Yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung secara optimal. Dalam pembelajaran proses belajar tersebut secara bertujuan dan terkontrol. Morgan di dalam Whandie http://whandie.net, 2007, menyebutkan bahwa kegiatan di katakana belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri, berikut ini:

  1. Belajar adalah perubahan tingkah laku
  2. Perubahan terjadi karena pengalaman bukan krena pertumbuhan
  3. Perubahan tersebut harus bersifat permanent untuk waktu yang cukup lama

Dari pengertian-pengertian di atas, pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan serangkaian aktivitas yang terprogram yang dilakukan oleh anak didik dan guru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar terjadi proses belajar atau perubahan tingkah laku pada anak didik, sebelum kegiatan belajar mengajar seorang guru harus merencanakan kegiatan belajar dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yang akan diberikan pada siswa

  1. G.       Hakekat  Hasil Belajar

Hasil belajar pada dasarnya adalah sutu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat latihan atau pengalaman. Pandangan tentang hasil belajar menurut Samuel Soeitoe (1982:82), hasil belajar tergantung dari kondisi yang dialami sebelum pada diri dari kondisi suasana belajar dan dari akibat apa yang dilakukan pelajar.

Gagne dan Briggs dalam sri Awan Asri (2007:1) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh  seseorang sesudah mengikuti proses belajar. Ada lima kemampuan yang yang dapat diperoleh seseorang sebagai hasil belajar yaitu keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik dan sikap.

Sementara itu, menurut Bloom dalam Sri Awan Asri (2007:2) membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif bekaitan dengan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah afektif berkaitan dengan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, nilaidan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan motorik, manipulasi bahan atau obyek

Idealnya pengungkapan hasil belajar meliputi ketiga ranah tersebut. Namun demikian, pengungkapan seluruh ranah sulit dilakukan. Oleh karena itu, yang dapat dilakukan adalah hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan mencerminkan perubahan sebagai hasil belajar.

Oleh karena itu, pengertian hasil belajar dalam penelitian ini hanya dibatasi pada ranah kognitif menurut kategori Bloom yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis dengan penekanan pada asperk pengetahuan dan pemahaman yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa subyek penelitian.

 

  1. H.       Pendekatan Kontekstual

Metode mengandung unsure prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan. Menurut Knowles (1977;133) dalam Sudjana (2005:14) metode adalah pengorganisasian peserta didik didalam upaya mencapai tujuan. Metode berkaitan dengan teknik yaitu langkah-langkah yang ditempuh dalam metode  untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Abdul Madjid (2006:136-137) metode dalam pendidikan merupakan cara yang ditempuh atau dipergunakan oleh guru dalam metode pembelajaran dapat beragam, yang perlu diperhatikan adalah akomodasi menyeluruh terhadap prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar yaitu :

  1. Berpusat pada siswa (Student Oriented)
  2. Belajar dengan melakukan (Learning by Doing)
  3. Mengembangkan kemampuan sosial (Learning To Life  Together)
  4. Mengembangkan keingintahuan atau imajinasi
  5. Mengembankan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah

 

Pembelajaran kontekstual atau dikenal istilah Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut Mulyasa (2006:102) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan merasakan pentingnya belajar dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.

Dari pengertian tersebut terdapat tiga konsep dasar CTL yaitu :

  1. CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses belajar diorientasikan kepada proses pengalaman siswa secara langsung.
  2. CTL mendorong agar siswa dpat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata sehingga materi akan bermakna dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak mudah terlupakan.
  3. CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan artinya CTL bukan “hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajari akan tetapi  bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru mengahdirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan sedikit demi sedikit dan proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

 

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya memberikan materi pemebelajaran berupa hapalan tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran.

Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan menunjang pembelajaran kontekstual. Hal ini sesuai dengan Mulyasa (2006:103) mengemukakan pentingnya lingkungan belajar dalam belajar efektif itu dimulai pembelajaran kontekstual, antara lain : dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, dari guru acting di depan kelas, siswa menonton ke siswa aktif bekerja dan bekary, pembelajaran harus berpusat pada bagaimana siswa. Guru mengarahkan pengetahuan baru mereka.

Sementara itu mennurut nurhadi (2004:148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah:

  1. Real Word Learning
  2. Mengutamakan pengalaman nyata
  3. Berpikir tingkat tinggi
  4. Berpusat pada siswa
  5. Siswa aktif, kritis dan kreatif
  6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
  7. Pendidikan bukan pengajarn atau instruction
  8. Memecahkan masalah
  9. Siswa acting, guru mengarahkan, bukan guru acting siswa menonton
  10. Hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan test

 

Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual memiliki cirri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan bergairah pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif.

Proses pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan siswa dan guru yang dilakukan bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.

 

  1. I.          Kerangka Berpikir

Dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPS guru dituntut untuk mampu menggali konsep, pengetahuan atau informasi dasar yang telah dimiliki oleh swasta dan memilahnya kedalam konsep atau pengetahuan yang benar dan membangunnya dalam pengetahuan yang tepat untuk pembentukan sikap yang baik.

Berdasarkan uraian di atas pendekatan kontekstual dimungkinkan termasuk salah satu dari sekian metode mengajar yang baik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS. Dengan metode ini guru dapat menggali konsep dan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh seorang siswa dan membangunnya dalam suatu konsep pengetahuan yang benar.

Pembelajaran pendekatan kontekstual merupakan model pembelajaran kelompok. Dalam proses pembelajaran kontekstual juga akan terjadi peristiwa pengajaran teman sebaya (peer teaching) yang cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran oleh guru. Dalam sistem pembelajaran kontekstual siswa akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan teman untuk mengembangkan diri sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.

Model pembelajaran kontekstual dikembangkan setidaknya untuk mencapai tiga tujuan dasar yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan social. Dalam pembelajaran  kontekstual akan mendorong siswa lebih berperan aktif dalam belajar  dengan  guru sebagai fasilitator  belajar sehingga hasil belajar akan lebih bermakna mendalam bagi siswa. Pada pembelajaran konvensional, guru yang lebih berperan aktif sebagai sumber belajar dn siswa hanya sebagai obyek pembelajaran yang cenderung bersifat pasif.

 

  1. Hipotesis Tindakan

Melalui penerapan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPS  siswa kelas III di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

  1. C.       Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian tindakan kelas yang dalam bahasa inggris dikenal sebagai Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Kelas, dalam hal ini tidak terkait pada ruang kelas, tetapi dalam pengetian spesifik, kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar.

PTK dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu proses pembelajaran di kelas. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, dan bukan input kelas (silabus, materi dan sebagainya) ataupun output (hasil belajar).

PTK harus tertuju mengenai hal – hal yang terjadi di dalam kelas. Hasil penelitian tidak dimaksudkan untuk digeneralisasikan. Oleh karena itu penelitian ini tergolong sebagai penelitian kualitatif.

Secara kualitatif dapat dijelaskan bahwa penelitian ini, yakni : (1) dilakukan pada setting alamiah, yaitu lingkungan kelas, (2) data penelitian lebih bersifat deskriptif dan data yang akan terkumpul berbentuk kata-kata sehingga tidak menekankan pada angka , (3) lebih mengarah pada proses daripada hasil, (4) analisis data dilakukan secara induktif, (5) peneliti merupakan instrument kunci, dan (6) lebih menekankan pada makna (Sugiono,2005:10)

 

  1. D.       Setting Penelitian
    1. 8.      Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, pada siswa kelas III untuk mata pelajaran IPS, khususnya pada materi pekerjaan.

 

  1. 9.      Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010 / 2011 tepatnya pada semester ke-2 yaitu pada hari selasa – kamis, tanggal 1-3 Maret 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar yang efektif di kelas.

 

  1. 10.  Prosedur Kerja Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dua atau tiga siklus untuk melihat peningkatan kemajuan proses belajar siswa dan peningkatan hasil pembelajarannya

 

SIKLUS KE  – 1

Rencana tindakan siklus I, meliputi :

  1. Perencanaan

Sebelum tindakan dilakukan dibuat perencanaan berikut ini:

  1. Membuat rencana pembelajaran kontekstual
  2. Membuat lembar kerja siswa
  3. Membuat instrument yang digunakan dalam siklus
  4. Menyusun alat evaluasi pembelajaran

 

  1. Pelaksanaan tindakan

Penelitian tindakan dilaksanakan dalam tiga tindakan. Adappun langkah-langkah implimentasi tindakannya sebagai berikut :

  1. Membagi siswa dalam delapan kelompok
  2. Menyajikan materi pelajaran
  3. Diberikan materi diskusi tentang jenis-jenis pekerjaan
  4. Dalam diskusi kelompok , guru mengarahkan kelompok
  5. Salah satu dari kelompok diskusi membacakan hasil kerja kelompoknya
  6. Guru memberikan pertanyaan atau kuis
  7. Siswa diberi kesempatan untuk member tanggapan
  8. Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama
  9. Melakukan pengamatan atau observasi

 

  1. Pengamatan / observasi
    1. Situasi Kegiatan Belajar Mengajar
    2. Keaktifan Siswa
    3. Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok

 

  1. Refleksi

Kegiatan pembelajaran dianalisa dan sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya.

 

SIKLUS KE  – 2

  1. Peerencanaan
    1. Membuat instrument yang digunakan dalam siklus PTK
    2. Menyusun alat evaluasi

 

  1. Pelaksanaan
    1. Membagi siswa dalam delapan kelompok
    2. Menyajikan materi pelajaran
    3. Diberikan materi diskusi
    4. Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
    5. Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
    6. Guru memberikan kuis atau pertanyaan
    7. Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan
    8. Penguatan dan kesimpulan secara bersama – sama
    9. Mmelakukakan pengamatan atau observasi

 

  1. Pengamatan / observasi
    1. Situasi kegiatan belajar mengajar.
    2. Keaktifan siswa
    3. Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok

 

  1. Refleksi

Kegiatan pembelajaran dianalisa dan sekaligus menyusunrencana perbaikan pada siklus berikutnya

  1. 11.  Metode pengumpulan data
    1. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi, yaitu melalui pengamatan dan mencatat hal –hal yang terjadi kelas selama proses pembelajaran berlangsung baik menyangkut siswa maupun guru, kemudian guru member tes kepada siswa tentang materi yang diberikan,serta catatan – catatan lain yang terjadi di lapangan.

Hasil pengamatan didiskusikan oleh peneliti dan guru lain pada saat mengnalisa  data dan hal tersebut sangat berguna untuk membuat perencanaan dan tindakan pada siklus berikutnya.

 

  1. Alat pengumpulan data dalam penelit

Alat pengumpulan dataian tindakan kelas ini meliputi tes, observasi, kueioner dan diskusi sebagaimana berikut ini :

  1. Tes : menggunakan butir soal / instrument soal untuk mengukur hasil belajar siswa.
  2. Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

 

  1. 12.  Metode analisis data

Proses analisis data terdiri dari atas analisis pada saat penelitian di lapangan yaitu pada saat pelaksanaan kegiatan dan analisis terhadapa data yang telah terkumpul. Data yang terkumpul berupa hasil tes siswa, hasil observasi, dan catatan – catatan lain yang terjadi di lapangan. Tahap analisis data dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada dari berbagai sumber, kemudian menyusun, mengolah, dan menyajikan sesuai dengan kaidah – kaidah ilmiah sehingga menjadi data yang bermakna.

 

  1. 13.  Indicator keberhasilan

Indicator keberhasilan dalam penelitian ini mengacu kepada ketuntasan minimum ( KKM) yang telah di tentukan oleh sekolah, yaitu 65 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 70% selanjutnya siswa dikategorikan tuntas belajar apabila telah memperoleh nilai ≥ 65 dan apabila siswa memperoleh nilai <65 maka siswa tersebut belum tuntas belajar, selanjutnya pembelajaran dikatakan tuntas secara klasikal apabila ketuntasan hasil belajar mencapai ≥65.

Selain itu peneliti tindakan kelas ini berhasil apabila hasil pengamatan didapat ≥ 70% siswa berperan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPS terpadu di kelas.

  1. 14.  Penentuan kriteria keberhasilan

Analisis belajar siswa

(80-100)         = sangat baik

(60-79)           = baik

(40-59)           = cukup

(20-39)           = kurang

( < 19)            = sangat kurang

 

  1. 15.  Analisis dan refleksi

Penerapan pendekatan kontekstual di kelas III, SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

Jika dari data yang diperoleh menunjukkan ketidakberhasilan perlu diulangi lagi pada siklus kedua sehinggaindikator tercapai keberhasilannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

  1. C.    Deskripsi Data
  2. Siklus pertama

Pada siklus pertama, pembelajaran kurang melibatkan siswa secara langsung dalam diskusi kelompok. Guru lebih banyak berperan dalam memberikan teori mengenai materi jenis-jenis pekerjaan. Guru menggunajan metode ceramah untuk menyampaikan materinya.

Proses pembelajaran siklus pertama terdiri dari satu minggu (dua kali pertemuan). Pertemuan pertama menyampaikan tujuan dan menjelaskan dengan pendekatan kontekstual, dilanjutkan dengan menunjukkan jenis-jenis pekerjaan

Pertemuan kedua membuat rangkuman atau kesimpulan, refleksi dan uji kompetensi, hasil uji kompetensi pada siklus I dapat dilihat pada table I

Table I. hasil uji kompetensi siklus I

No

Nama siswa

L/P

Nilai UH

Nilai siklus I

1

Abdulah darusalam

L

40

60

2

Firman Firdaus

L

50

75

3

Dini Amalia

P

50

80

4

Ahmad Javi

L

50

75

5

Siti Fatimah

P

75

85

6

Abdul Kohar

L

60

70

7

Nurhayati

P

55

65

8

 Chintia

P

65

75

9

Calvin Pratama

L

50

65

10

Ailia

P

70

70

11

Diah rahainuni

P

65

75

12

Tita Amalia

P

50

55

13

Yudha

L

50

55

14

Made candra

L

55

65

15

Mega Utami

P

70

80

 

Jumlah nilai

 

855

1050

 

Rata – rata

 

57

70

 

KKM

 

65

65

 

Jumlahh siswa tuntas

 

4

12

 

Jumlah siswa belum tuntas

 

11

3

 

% ketuntasan

 

26,67

80

 

 

  1. Siklus kedua

Pada siklus II mulai dilakukan tindakan, berdasarkan hasil pemantauan peneliti dan kolabolator, serta hasil refleksi siswa. Dalam proses pembelajaran siswa mulai dibagi dalam 8 kelompok, siswa secara langsung menyimak dari sesame temannya dalam menjelaskan materi dari kelompok lainnya

Proses pembelajaran siklus II terdiri dari I minggu ( 2 x pertemuan). Pertemuan pertama menunjukan contoh – contoh jenis pekerjaan dan manfaatnya dan dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan membuat rangkuman atau kesimpulan. Perrtemuan kedua refleksi dan uji kompetensi. Hasil uji kompetensi pada siklus II dapat dilahat pada table II

Table I. hasil uji kompetensi siklus I

No

Nama siswa

L/P

Nilai siklus I

Nilai siklus II

1

Abdulah darusalam

L

60

70

2

Firman Firdaus

L

75

80

3

Dini Amalia

P

80

90

4

Ahmad Javi

L

75

80

5

Siti Fatimah

P

85

90

6

Abdul Kohar

L

70

85

7

Nurhayati

P

65

70

8

 Chintia

P

75

80

9

Calvin Pratama

L

65

80

10

Ailia

P

70

85

11

Diah rahainuni

P

75

80

12

Tita Amalia

P

55

70

13

Yudha

L

55

70

14

Made candra

L

65

75

15

Mega Utami

P

80

90

 

Jumlah nilai

 

1050

1195

 

Rata – rata

 

70

79,67

 

KKM

 

65

65

 

Jumlahh siswa tuntas

 

12

15

 

Jumlah siswa belum tuntas

 

3

0

 

% ketuntasan

 

80

100

 

 

 

 

  1. D.    Pembahasan
  2. Siklus ke 1
    1. Perencanaan

Proses pembelajaran siklus 1 terbagi dalam  satu hari. Dalam perencana tindakan kelas ini, peneliti mengidentifikasi materi yang diteliti, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran pada kompetensi dasar, memberikan contoh-contoh jenis-jenis pekerjaan. Mengembangkan instrument untuk pengamatan guru dan siswa pada kegiatan belajar mengajar, dalam penyampaian materi, peneliti menggunakan metode ceramah dan secara klasikal.

  1. Tindakan

Selanjutnya ketika peneliti melakukan tindakan pada tahap ini, guru melakukan apersepsi untuk memberikan motivasi dan arahan siswa untuk memasuki dapa kopetensi dasar menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang dipelajari, menyiapkan tujuan yang akan dicapai, menjelaskan langkah-langkah pembelajaran, guru menjelaskan contoh-contohny. Siswa menjawab pertanyaan yang teerdpat pada lembar kerja siswa. Bersamaan dengan itu guru memberikan bimbingan dan penilaian terhadap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kemudian guru membimbing siswa secara klasikal untuk membuat rangkuman atau kesimpulan dari hasil kegiatan.

  1. Observasi

Pada saat yang bersamaan, peneliti melakukan pengamatan dengan mengisi instrument yang sudah disiapkan yang meliputi: pengamatan kegiatan guru dan siswa setelah kegiatan berakhir.

  1. Refleksi

Melalui hasil pengamatan siklus 1, siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pelajaran dengan memperhatikan penjelasan pokok bahasan yang disampaikan guru dengan metode ceramah, walaupun pada aaspek perhatian dan keseriusan siswa mmendapat nilai baik, tetapi pada keaktifan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru masih dinilai kurang. Sehingga guru harus memberikan tugas yang ada di lembar kerja siswa (LKS) dan ternyata siswa aktif mencari sumber belajar dinilai cukup.

Berdasarkan siklus 1 diperoleh rata-rata nilai siswa 70, yang berarti mengalami  kenaikan 80% dari sebelumnya.

 

  1. Siklus ke 2
    1. Perencanaan

Dalam perencanaan tindkan kelas ini, peneliti menentukan metode yang tepat dalam pembelajaran yaitu mengguakan metode pendekatan kontekstual. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok dalam satu kelas. Guru menyiapkan media pembelajaran berupa menyebutkan jens-jenis pekerjaan. Mengembangkan instrument untuk pengamatan guru dan siswa pada kegiatan belajar mengajar.

b.   Tindakan

Selanjutnya ketika peneliti melakukan tindakan pada tahap ini, guru melakukan apersepsi untuk memberikan motivasi dan arahan siswa untuk memasuki dapa kopetensi dasar menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang dipelajari, menyiapkan tujuan yang akan dicapai, menjelaskan langkah-langkah pembelajaran, guru menjelaskan contoh-contohny. Siswa menjawab pertanyaan yang teerdpat pada lembar kerja siswa. Bersamaan dengan itu guru memberikan bimbingan dan penilaian terhadap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kemudian guru membimbing siswa secara klasikal untuk membuat rangkuman atau kesimpulan dari hasil kegiatan.

 

  1. Observasi

Pada saat yang bersamaan, peneliti melakukan pengamatan dengan mengisi instrument yang sudah disiapkan yang meliputi: pengamatan kegiatan guru dan siswa setelah kegiatan berakhir.

 

  1. Refleksi

Melihat hasil pengamatan siklus 2 antusias siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, hal ini juga dapa dilihat dari penelitian dn konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru, juga termasuk pada saat siswa harus melakukan diskusi, karena selama ini guru dalam menyaampaikan pokok bahasan didominasi dengan metode ceramah. Pada siklus 2 ini guru menggunakan metode pendekatan kontekstual, dimana siswa mendapatkan pengalaman-pengalaman belajar untuk dapat merumuskan problema sendiri, mermuskan masalah sampai menganalisa yang akhirnya siswa dapat menarik kesimpulan.

Dalam aspek kerja sama antar anggota, kelompok ternyata masih kurang, hal ini disebabkan karena masing-masing anggota kelompok saling mengandalkan kepada anggota kelompok lainnya.

Berdasarkan tes akhir siswa pada siklus 2 nilai presentasi siswa dengan rata-rata 79,67, yang berarti mengalami kenaikan 20% (ketuntasan 80% pada siklus 1, naik menjadi ketuntasan 100% pada siklus 2) dari sebelum tindakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tindakan kelas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pembelajaran dengan metode kontekstual dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar IPS khususnya materi menyebutkan jenis-jenis pekerjaan
  2. Dengan metode pendekatan kontekstual, siswa mendapatkan pengalaman belajar dengan mengembangkan proses-proses penemuan masalah dan mencari pemecahan masalah tersebut melalui tahapan-tahapan diskusi.
  3. Metode pendekatan kontekstual dapat menngkatkan hasil belajar siswa dari ketuntasan 26,67 % menjadi ketuntasan 80% dan akhirnya tuntas 100%
  4. Dengan metode pendekatan kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sebagai sumber belajar.

 

  1. Saran
  2. Pada guru diharpkan dapat menerapkan metode pendekatan kontekstual dalam pembelajarannya.
  3. Kepada sekolah diharapkan dapat memfasilitasi alat-alat dan bahan – bahan pelajaran IPS

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi dkk 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara

Blooms. (Anderson And David. R.L, Editor) (2001). A Taxonomy for Learning Teaching

and Assesing. Longman.Co.Ltd. London

Kamus Bahasa (1994:705)

Nasution Nur Wahyudin, Strategi Pembelajaran, IAIN Sumut. Medan

Whandie http://www.whandie.net.2007

 

 

LAMPIRAN

RENCANA PEMBELAJARAN

 

Mata Pelajaran                      : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / Semester                     : III / I

Tema                                       : Jenis – Jenis Pekerjaan

Alokasi waktu                                    : 2 x 35 menit

 

 

  1. I.             STANDAR KOMPETENSI

Memahami jenis – jenis  pekerjaan

  1. II.          KOMPETENSI DASAR

Mengenal jenis-jenis pekerjaan

 

  1. III.       INDIKATOR
    1. Menjelaskan alas an orang harus bekerja
    2. Menjelaskan pentingnya memiliki semangat kerja
    3. Menjelaskan ciri – ciri orang yang memiliki semangat kerja

 

  1. IV.        TUJUAN PEMBELAJARAN

Siswa mampu menceritakan jenis pekerjaan

 

  1. V.           MATERI POKOK

Jenis – jenis pekerjaan

 

  1. VI.        METODE PEMBELAJARAN

–          Ceramah

–          Diskusi

–          Tanya jawab, dan

–          Pemberian tugas

 

  1. VII.     LANGKAH – LANGKAH PEMBELAJARAN
    1. Kegiatan awal
      1. Berdoa bersama
      2. Absensi
      3. Guru memberikan pengantar dengan bercerita dengan tema jenis-jenis pekerjaan

 

  1. Kegiatan inti
    1. Guru menanyakan cita-citaa setiap siswa
    2. Menyebutkan jenis-jenis pekerjaan masyarakat dilingkungan sekitar
    3. Melakukan wawancara profesi pekerjaan dengan masyarakat lingkungan sekitar atau dengan anggota keluarga yang mencakup jenis pekerjaan dan tempat pekerjaan
    4. Menyusun laporan wawancara atau menyusun rekaman hasil  wawancara.
    5. Kegiatan akhir
      1. Review mata pelajaran yang telah dipelajari
      2. Guru menanyakan apakah siswa sudah memahami mata pelajaran yang telah dipelajari
      3. Doa bersama(pulang)

 

  1. VIII.  SUMBER BELAJAR DAN SARANA
    1. Sumber belajar
    2. aku senang belajar tematik III
    3.  buku paket IPS
    4. Sarana
      1. Gambar-gambar tempat bekerja (kantor, pasar, rumah sakit dan sebagainya)
      2. Gambar macam-macam pekerjaan (pegawai kantor, perawat, penari, pengrajin dan sebagainya)
      3. Tape recorder

 

  1. IX.        PENILAIAN
    1. Unjuk kerja   : Siswa melakukan wawancara
    2. Tes lisan       : Tanya jawab
    3. Tes tertulis    : Menyusun hasil wawancara

 

 

Parung,  01 Maret 2011

Kepala SD N Bojong Sempu 02                                                           Guru kelas III

 

 

DJENAB                                                                     MUHAMAD GUNTUR

NIP : 195504071976012002                                       NIM : 1001037201

 

 

Karya ilmiah

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF

DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA

DISUSUN OLEH

Nama       :  MUHAMAD GUNTUR

Nim          :  1001037201

 

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH Prof. Dr. HAMKA

UHAMKA JAKARTA

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Bismillahirahhmanirrahim

 

Alhamdulillah segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat taufik dan hidayah Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan makalah ini, yang berjudul MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA.

 

Dalam penyusunan akalah  ini, penulis mendapatkan banyak bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk penulis menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Dosen UHAMKA
  2. Kepala SD Negeri Bojong Sempu 02 Kecamatan Parung Kabupaten Bogor
    1. Rekan guru sejawat
    2. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, banyak kekurangan dan keterbatasan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dalam bentuk apapun. Namun demikian, penulis harapkan semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya, dan penulis pada khususnya.

 

Bogor, Maret 2011

Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………………. ii

Bab I Pendahuluan

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………………… 1
  2. Tujuan………………………………………………………………………………………………………….. 1

 

Bab II Model Pembelajaran Cooperative

  1. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative……………………………………………………….. 3
  2. Prinsip Dasar dan Ciri-Ciri  Model Pembelajaran Cooperative…………………………………….. 4
  3. Langkah-Langkah Pembelajaran Cooperative………………………………………………………… 5

 

Bab III Model Pembelajaran Cooperative Tipe STAD

  1. Pengertian Pembelajaran Cooperative Tipe STAD…………………………………………………… 7
  2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Cooperative Tipe STAD………………………………………… 8
  3. Materi Matematika Yang Relevan dengan STAD……………………………………………………. 10
  4. Keunggulan Model Pembelajaran Tipe STAD………………………………………………………… 10

Bab IV Kesimpulan Dan Saran

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………. 12
  2. Saran……………………………………………………………………………………………………………. 12

 

Daftar Pustaka

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber – sumber belajar yang ada.
B.     Tujuan

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk :

  1. Menambah wawasan bagi pembaca
  2. Menambah wawasan bagi guru nantinya dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.

BAB II
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIF

  1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.

Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok.Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nur (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

 

 

 

  1.  Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Nur (2000), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

  1. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
  2.  Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
  3. kelompok mempunyai tujuan yang sama.
  4. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama  diantara anggota kelompoknya.
  5. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
  6. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
  7. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta
  8. mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
    Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

    1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
    2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
    3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
    4. Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain.

 

  1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Terdapat 6(enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif.

  1.  Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
    Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan        kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
  2. Menyajikan informasi.
    Guru menyajikan informasi kepada siswa.
  3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
    Guru menginformasikan pengelompokan siswa.
  4. Membimbing kelompok belajar.
    Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
  5.  Evaluasi.
    Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  6. Memberikan penghargaan.
    Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

 

 

BAB III
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

  1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu. Tipe pembelajaran inilah yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Model Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.

 

  1.  Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Model STAD.
    1. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok
      Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 – 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :

a)    Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.

b)   Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat (pendiam dan aktif), dll.

  1.  Penyajian Materi Pelajaran.

a. Pendahuluan
Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya

b. Pengembangan
Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-peranyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.

c. Praktek terkendali
Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

  1. Kegiatan kelompok
    Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
  2. .Evaluasi
    Dilakukan selama 45 – 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.
  3.  Penghargaan kelompok
    Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super.
  4. Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok
    Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain

 

  1. Materi Matematika yang Relevan dengan STAD.
    Materi-materi matematika yang relevan dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggidan juga hapalan, misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan jam, dll. Dengan penyajian materi yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

    1.  Keunggulan Model Pembelajaran Tipe STAD
      Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok ter tergantung keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

 

 

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

  1.  Simpulan
    1.  Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda
    2. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
    3.  Pada intinya konsep dari model pembelajaran tipe STAD adalah Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut

 

  1. Saran
    1. .Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan keterampilam kooperatif sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
    2. .Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berjalan, sebaiknya guru membuat perencanaan mengajar materi pelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Sri Wardhani. (2006). Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Tim PPPG Matematika. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam
Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG Matematika.

Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JADWAL KEGIATAN HARI SABTU

NO JAM KEGIATAN KET
1 04.30 – 05.30 Bangun.mandi dan sholat subuh
2 05.30 – 06.30 Olah raga
3 06.30 – 07.30 Mandi,sarapan pagi dan berangkat kesekolah
4 07.30 – 09.30 Mengajar olah raga dan ekskul pramuka
5 09.30-10.00 ISTIRAHAT
6 10.00 – 12.00 Membuat boneka dari bahan yang tidak terpakai
7 12.00 – 13.00 Sholat juhur dan makan siang
8 13.00 – 13.30 Berangkat keaula PGRI
9 13.30 – 17.00 Mengikuti pembinaan guru bermutu
10 17.00 – 17.30 Pulang kerumah
11 17.30 – 19.30 Mandi,makan sore,sholat magrib
12 19.30 – 23.00 Menyelesaikan tugas sekolah
13 23.00 – 04.30 Istirahat

Ini adalah jawal kegiatan yang saya lakukan tanggal 26 Februwari 2011 pada hari sabtu di aula PGRI dan kegiatan ini setiap hari sabtu selama 16 pertemuan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment